Skincare

Apakah Salep Apotek Dapat Menggantikan Skincare?

Ditulis oleh Apt. Ellen Nathania Yunita, S.Farm.
8 Jan 2026 18:41
Thumbnail Apakah Salep Apotek Dapat Menggantikan Skincare?
Sumber: https://cdn.shopify.com/s/files/1/0071/6197/0758/files/shutterstock_1416346496_1024x1024.jpg?v=1594210464
Dunia kecantikan seolah tak pernah kehilangan ide baru. Produk perawatan kulit atau saat ini lebih dikenal dengan istilah skincare, telah menjadi kebutuhan penunjang penampilan. Bahkan tak sedikit orang yang rela menyisihkan anggaran khusus untuk membeli berbagai produk skincare. Beragam produk tersedia di pasaran dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai dari sabun pencuci wajah, moisturizer, hingga tabir surya. Namun, pernahkah Anda membeli obat di apotek untuk tujuan kecantikan?

Meskipun pada kemasan obat keras terpampang jelas logo lingkaran merah dengan huruf “K”, hal tersebut tampaknya tidak menyurutkan niat sebagian konsumen untuk membeli dan menggunakannya tanpa resep dokter. Walau sejatinya obat keras tidak dapat dibeli tanpa resep, tidak jarang obat-obatan ini tetap dijual bebas, baik di apotek maupun melalui marketplace, tanpa disertai aturan pakai yang jelas. Harga yang relatif lebih murah dan efek yang dirasa lebih ampuh menjadi alasan utama banyaknya masyarakat yang memasukkan obat ke dalam rutinitas skincare sehari-hari.

Obat vs Skincare, apa bedanya?


Secara sederhana, skincare yang termasuk dalam golongan kosmetika berbeda dengan obat. Kosmetika tidak ditujukan untuk mengobati atau meredakan kondisi medis tertentu, melainkan hanya berfungsi untuk membersihkan, merawat, dan memperbaiki penampilan. Berdasarkan Peraturan BPOM nomor 31 tahun 2020, kosmetika adalah bahan atau sediaan yang ditujukan untuk penggunaan pada bagian luar tubuh seperti kulit, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar, gigi dan mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik1. Sementara itu, menurut Permenkes 72 tahun 2016, obat merupakan bahan atau kombinasi bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk diagnosis, pencegahan penyakit, penyembuhan, rehabilitasi, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi.2

Perbedaan antara obat dan kosmetik juga tercermin dari izin edarnya. Nomor izin edar kosmetik diawali dengan 2 huruf diawali dengan huruf N dan disertai dengan huruf A hingga E sesuai negara produsen dengan 12 digit angka3. Sementara itu,  nomor izin edar obat diawali dengan 3 huruf dan 8 digit angka4. Selain itu, obat juga disertai dengan lingkaran dengan warna hijau, biru atau merah pada kemasan5

Berbeda dengan skincare, penggunaan obat harus disertai dengan indikasi medis. Penggunaan obat, khususnya untuk obat golongan keras harus digunakan dengan resep dokter. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang menggunakan obat kulit sebagai pengganti kosmetik karena dianggap memberikan hasil yang lebih cepat dan lebih ampuh. Anggapan ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah penggunaan obat sebagai pengganti skincare benar-benar aman?

Berkenalan dengan Obat Topikal

Obat yang diaplikasikan pada kulit seperti obat dalam bentuk gel, krim, atau salep dimasukkan ke dalam golongan obat topikal6. Sediaan topikal merupakan obat yang diaplikasikan langsung pada permukaan tubuh seperti kulit atau mukosa7. Dimana sediaan topikal ditujukan untuk memberikan efek terfokus atau hanya pada area yang diaplikasikan. Agar dapat bekerja secara efektif, sediaan topikal harus mampu menembus lapisan kulit hingga mencapai lokasi kerjanya. Meskipun sebagian besar obat topikal dirancang untuk bekerja secara lokal, beberapa kandungan obat dapat terserap ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan efek sistemik pada tubuh6.

Penggunaan sediaan topikal memang lebih disukai dalam pengobatan masalah kulit karena dinilai lebih praktis, nyaman, serta dapat memberikan efek yang lebih cepat dan efektif.6,8 Namun, beberapa jenis obat topikal justru sering disalahgunakan untuk tujuan kosmetik. Contohnya adalah obat jerawat dan obat penghilang flek hitam. Kandungan seperti klindamisin, dan tretinoin kerap digunakan tanpa resep dokter, meskipun termasuk obat keras9. Selain itu, krim yang mengandung hidrokuinon juga sering disalahgunakan untuk mengatasi hiperpigmentasi wajah10. Padahal, obat-obat tersebut tergolong dalam obat keras  yang harus digunakan sesuai resep dokter.

Jadi, Apakah Salep Apotek Dapat Menggantikan Skincare?

Pada dasarnya skincare dan obat memiliki tujuan penggunaan yang berbeda. Skincare dapat digunakan secara rutin sementara lama penggunaan obat harus diperhatikan sesuai diagnosis. Dasar pemilihan skincare pun sederhana, cukup baca label kemasan, Anda dapat menentukan skincare mana yang cocok untuk kondisi kulit berbeda dengan obat khususnya obat keras yang memerlukan diagnosis oleh dokter.

Bukan tanpa alasan, obat topikal kategori keras dapat menimbulkan efek yang merugikan seperti reaksi alergi, hipersensitivitas, iritasi, kulit kering, hingga rasa terbakar.10,11,12,13 Beberapa obat juga masuk dalam kategori keras karena tidak aman digunakan pada pasien hamil dan anak-anak sehingga memerlukan konsultasi dengan dokter sebelum digunakan14. Oleh karena itu, penggunaan obat keras harus sesuai dengan resep dokter untuk menghindari efek merugikan. Apabila masalah kulit yang dialami mengganggu penampilan dan tidak membaik meskipun telah menggunakan skincare, langkah yang tepat adalah berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis. Jangan sampai penggunaan obat yang tidak bijak justru dapat memperburuk kondisi kulit di kemudian hari.

Referensi:

  1. Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2020
  2. Peraturan Mentri Kesehatan No 72 Tahun 2016
  3. ‌BPOM. (2025). Daftar Produk Kosmetika. Tersedia daring pada: https://cekbpom.pom.go.id/produk-kosmetika [Diakses 22 Dec. 2025].
  4.  BPOM. (2025). Daftar Produk Obat. Tersedia daring pada: https://cekbpom.pom.go.id/produk-obat [Diakses  22 Dec. 2025].
  5. Kemenkes. (2024). Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Tersedia daring pada:: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3413/yuk-kenali-logo-pada-obat-beserta-artinya [Diakses 22 Dec. 2025].
  6. Chang, R.-K., Raw, A., Lionberger, R. and Yu, L. (2012). Generic Development of Topical Dermatologic Products: Formulation Development, Process Development, and Testing of Topical Dermatologic Products. The AAPS Journal, Vol. 15(1), pp.41–52. doi:https://doi.org/10.1208/s12248-012-9411-0.
  7. NIH. (2021). Using medication: Learn More – Topical medications. Tersedia daring pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK361003/ [Diakses 22 Dec. 2025].
  8. ‌Suhandi, C. and Wardhana, Y.W., 2023. Pertimbangan Penggunaan Polimer Responsif perubahan pH dan Suhu pada Formulasi Sediaan Topikal. Majalah Farmasetika, 8(4), pp.305-319.
  9. Sutaria, A.H., Masood, S., Saleh, H.M. and Schlessinger, J. (2023). Acne Vulgaris. [online] Nih.gov. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459173/ [Accessed 22 Dec. 2025].
  10. Mims.com. (2025). Hydroquinone - Topical Patient Medicine Information | MIMS Singapore. [online] Available at: https://www.mims.com/singapore/drug/info/hydroquinone/patientmedicine/hydroquinone-topical [Accessed 22 Dec. 2025].
  11. Mims.com. (2020). Tretinoin. [online] Available at: https://www.mims.com/singapore/drug/info/tretinoin?mtype=generic [Accessed 22 Dec. 2025].
  12. Mims.com. (2024). Benzoyl peroxide. [online] Available at: https://www.mims.com/singapore/drug/info/benzoyl-peroxide?mtype=generic [Accessed 22 Dec. 2025].
  13. Mims.com. (2024). Clindamycin. [online] Available at: https://www.mims.com/singapore/drug/info/clindamycin?mtype=generic [Accessed 22 Dec. 2025].
  14. Kovitwanichkanont T, Driscoll T. A comparative review of the isotretinoin pregnancy risk management programs across four continents. Int J Dermatol. 2018 Sep;57(9):1035-1046.


Komentar

Belum ada komentar