Kesehatan

Apakah Vitamin D Masih Memberikan Manfaat pada Orang dengan Kelebihan Berat Badan?

Ditulis oleh apt. Syahrul Hidayat, S. Farm.
23 Mei 2024
Thumbnail Apakah Vitamin D Masih Memberikan Manfaat pada Orang dengan Kelebihan Berat Badan?
Sumber: Ilustrasi Suplemen (https://unsplash.com/photos/nj9tmN-7YMA)

Vitamin D merupakan nutrisi esensial untuk kekuatan tulang dan menyokong sistem imun. Produksi vitamin D di dalam tubuh manusia terjadi saat tubuh terkena sinar matahari. Level vitamin D harian yang direkomendasikan adalah 400 IU (anak 0-12 bulan), 600 IU (usia 1-70 tahun) dan 800 Iu (>70 tahun) (Mayoclinic, 2023).

Defisiensi atau kekurangan vitamin D setidaknya telah memengaruhi sebanyak 40% orang Eropa begitu pula orang dengan kulit lebih gelap. Kelompok lain yang juga dapat terpengaruh oleh defisiensi vitamin D adalah orang dengan obesitas (Vranić et al, 2019).

Skala dan jenis dampak yang ditimbulkan masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, defisiensi vitamin D diduga dapat meningkatkan laju diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus tipe 2, multiple sclerosis, serta berbagai kondisi autoimun (Guildford, 2023).

Defisiensi vitamin D juga dikaitkan dengan risiko kanker dan hasil terapi kanker yang kurang signifikan. Obesitas juga merupakan salah satu faktor risiko untuk beberapa kondisi di atas (Guildford, 2023).

Penelitian telah menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D pada orang dengan obesitas (memiliki BMI di atas 30) tidak membantu memperbaiki level defisiensi vitamin D di dalam tubuh dibandingkan suplementasi vitamin D pada orang dengan BMI di bawah 25. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 2.842 individu dengan usia di bawah 40 tahun di Inggris telah memperlihatkan bahwa defisiensi vitamin memiliki hubungan dengan nilai BMI yang tinggi dan lingkar pinggang seseorang (Patel et al, 2022).

BMI (Body mass index) adalah angka yang didapat dari pembagian berat badan seseorang (kg) dengan kuadrat tinggi badannya (m). BMI merupakan metode skrining paling mudah untuk mengetahui kategori berat seseorang, yaitu: kurus, normal/sehat, kelebihan berat badan, dan obesitas (CDC, 2022).

Sebuah penelitian telah menyebutkan bahwa orang dengan obesitas memiliki level vitamin D lebih rendah. Selain itu, suplementasi vitamin D pada orang dengan obesitas tidak meningkatkan level vitamin D bahkan levelnya di bawah level vitamin D orang dengan berat badan normal (Patel et al, 2022).

Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang dengan nilai BMI di bawah 25 yang menggunakan suplementasi vitamin D memiliki kejadian kanker 24% lebih rendah, 42% mortalitas kanker lebih rendah, dan 22% lebih rendah mengalami kejadian penyakit autoimun dibandingkan dengan orang yang tidak menggunakan suplementasi vitamin D (Tobias et al, 2023).

Akan tetapi, efek tersebut tidak terjadi pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat dampak yang lebih jelas dari suplementasi vitamin D pada individu yang memiliki BMI berbeda (Tobias et al, 2023).

Peneliti juga mengukur level vitamin D serta BMI dari sebanyak 16.515 partisipan sebelum dan setelah suplementasi vitamin D. hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang-orang dengan BMI di bawah 25 memiliki kemungkinan lebih sedikit untuk mengalami defisiensi vitamin D. Apabila terjadi defisiensi vitamin D pada orang dengan BMI di bawah 25, suplementasi vitamin D masih memberikan manfaat dibandingkan pada orang dengan BMI di atas 30. Perbedaan tersebut diduga akibat perbedaan aktivitas hormon paratiroid yang dapat merangsang produksi vitamin D di ginjal pada saat seseorang mengalami level vitamin D yang rendah, pada orang dengan BMI lebih tinggi (Khan et al, 2022).

Para peneliti memperkirakan adanya hubungan terbalik antara level vitamin D dengan hormon paratiroid pada orang dengan BMI di bawah 25. Akan tetapi, suplementasi vitamin D dapat mengakibatkan penurunan level hormon paratiroid lebih banyak terjadi pada orang-orang dengan obesitas daripada orang dengan BMI normal. Perlu diselidiki lebih lanjut mengenai pengaruh dosis vitamin D terhadap orang-orang dengan nilai BMI berbeda (Khan et al, 2022).

Artikel direview oleh apt. Sofa Dewi Alfian, MKM, Ph.D

Referensi

  • CDC. 2022. About adult BMI. Available online at [https://www.cdc.gov/healthyweight/assessing/bmi/adult_bmi/index.html](https://www.cdc.gov/healthyweight/assessing/bmi/adult_bmi/index.html). [Diakses pada 22 Januari 2023].
  • Guildford A. 2023. Vitamin D: Does weight impact how much benefit we derive? Available online at [https://www.medicalnewstoday.com/articles/vitamin-d-does-weight-impact-how-much-benefit-we-derive](https://www.medicalnewstoday.com/articles/vitamin-d-does-weight-impact-how-much-benefit-we-derive). [Diakses pada 22 Januari 2023].
  • Khan M, Jose A, Sharma S. Physiology, Parathyroid Hormone. [Updated 2022 Oct 29]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499940/](https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499940/). [Diakses pada 22 Januari 2023].
  • Mayoclinic. 2023. Vitamin D. Available online at [https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-vitamin-d/art-20363792#:~:text=The%20recommended%20daily%20amount%20of,for%20people%20over%2070%20years](https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-vitamin-d/art-20363792#:~:text=The%20recommended%20daily%20amount%20of,for%20people%20over%2070%20years).. [Diakses pada 22 Januari 2023].
  • Patel L, Vecchia C, Alicandro G. 2022. Serum vitamin D and cardiometabolic risk faktors in the UK population. J Hum Nutr Diet. Epub ahead of print.
  • Tobias DK, Luttmann-Gibson H, Mora S, et al. 2023. Association of Body Weight with Response to Vitamin D Supplementation and Metabolism. JAMA Netw Open. Vol. 6(1): e2250681.
  • Vranić L, Mikolašević I, Milić S. 2019. Vitamin D Deficiency: Consequence or Cause of Obesity? Medicina (Kaunas). Vol. 55(9): 541.