Obat

Kenali Bahan Kimia Obat yang Sering Ditambahkan ke Dalam Jamu Tradisional

Ditulis oleh Ellen Nathania Yunita
20 Apr 2024
Thumbnail Kenali Bahan Kimia Obat yang Sering Ditambahkan ke Dalam Jamu Tradisional
Sumber: https://img.freepik.com/premium-photo/herbal-medicine-vs-chemical-medicine-alternative-healthy-care-white-wall_159160-1962.jpg

Obat herbal seperti jamu sudah menjadi warisan turun-temurun yang telah digunakan secara luas di masyarakat untuk memelihara kesehatan. Jamu didefinisikan sebagai bahan atau campuran bahan yang bersumber dari tumbuhan, hewan, sarian, atau mineral yang telah digunakan secara turun temurun (BPOM, 2006). Berbeda dengan obat konvensional, khasiat dan keamanan jamu hanya didasarkan pada bukti-bukti secara empiris dan turun temurun (Wicaksono, 2023). Jamu dinilai lebih aman dan minim efek samping karena dibuat dari bahan-bahan alami sehingga banyak orang mengkonsumsi jamu secara rutin.

 Belakangan ini ditemukan berbagai produk jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Larangan penambahan BKO ke dalam produk jamu diatur dalam PERMENKES nomor 7 tahun 2012 mengenai registrasi obat tradisional. Penambahan BKO bertujuan untuk meningkatkan khasiat jamu dengan memberikan efek instan (Nurrohmah & Mita, 2012). Jamu mengandung BKO berbahaya bagi kesehatan karena secara tidak langsung obat dikonsumsi tidak sesuai dengan dosis dan indikasi yang tepat. Artikel ini akan membahas beberapa obat yang sering disalahgunakan sebagai bahan tambahan dalam jamu.

1. Deksametason

 Deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid yang diindikasikan sebagai antiinflamasi, meredakan gejala alergi, asma, dan artritis (BPOM RI, 2015). Obat ini sering ditambahkan ke dalam jamu pegal linu karena dapat meredakkan nyeri otot. Efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi jamu yang mengandung deksametason meliputi iritasi lambung, sakit kepala, gangguan ginjal, osteoporosis, dan glaukoma (BPOM, 2006).

2. Sildenafil

 Sildenafil merupakan obat golongan penghambat fosfodiesterase tipe 5 yang diindikasikan untuk pengobatan gangguan fungsi ereksi (BPOM RI, 2015). Obat ini sering ditambahkan ke dalam jamu kuat pria (BPOM, 2006). Efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi jamu yang mengandung sildenafil meliputi muntah, sakit kepala, kemerahan pada wajah, pusing, reaksi hipersensitif, hidung tersumbat, dan peningkatan tekanan pada mata (BPOM RI, 2015).

3. Sibutramin

Sibutramin merupakan obat penghambat ambilan norepinefrin, serotonin, dan dopamin yang diindikasikan untuk membantu menurunkan berat badan pada pasien obesitas dengan menurunkan nafsu makan (Drug Bank, 2021). Obat ini sering ditambahkan ke dalam jamu pelangsing. Efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi jamu yang mengandung sibutramin meliputi peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, serta kesulitan tidur (BPOM 2006).

4. Teofilin

Teofilin merupakan obat yang diindikasikan untuk meredakan asma dan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) (Jilani et al., 2023). Obat ini sering ditambahkan ke dalam jamu sesak nafas. Efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi jamu yang mengandung teofilin meliputi peningkatan denyut jantung, mual, gangguan saluran cerna, sakit kepala, kesulitan tidur dan perubahan irama jantung (BPOM, 2006) .

5. Glibenklamid

Glibenklamid merupakan obat golongan sulfonilurea yang diindikasikan untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes (MIMS, 2023). Obat ini sering ditambahkan ke dalam jamu diabetes (BPOM, 2006). Efek samping yang dapat timbul akibat konsumsi jamu yang mengandung glibenklamid meliputi anemia hemolitik, pandangan kabur, gangguan saluran cerna, dan sakit kepala (MIMS, 2023).

Untuk menghindari jamu yang mengandung BKO dapat dilakukan dengan:

  1. Hindari konsumsi jamu tanpa izin edar dan melakukan penelusuran izin edar melalui laman https://cekbpom.pom.go.id/.
  2. Hindari konsumsi jamu dengan klaim berlebihan seperti dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
  3. Hindari konsumsi jamu dengan klaim menyembuhkan dengan instan

(BPOM, 2006)

Artikel direview oleh Apt. Raspati Dewi Mulyaningsih, S.Farm

Referensi

  • BPOM. (2006). Bahaya Bahan Kimia Obat (BKO) yang Dibubuhkan Ke Dalam Obat Tradisional (Jamu) | Badan Pengawas Obat dan Makanan.Tersedia daring pada: https://www.pom.go.id/berita/bahaya-bahan-kimia-obat-(bko)-yang-dibubuhkan-kedalam-obat-tradisional-(jamu) [Diakses 23 Desember 2023].
  • BPOM RI. (2015). 6.3.2 Glukokortikoid | PIO Nas. PIO Nas. Tersedia daring pada: https://pionas.pom.go.id/ioni/bab-6-sistem-endokrin/63-kortikosteroid/632-glukokortikoid [Diakses 23 Desember 2023].
  • BPOM RI. (2015). SILDENAFIL | PIO Nas. PIO Nas. Tersedia daring pada: https://pionas.pom.go.id/monografi/sildenafil [Diakses 23 Desember 2023].
  • BPOM RI. (2015). Penghambat Fosfodiesterase tipe 5 | PIO Nas. PIO Nas. Tersedia daring pada: https://pionas.pom.go.id/ioni/bab-7-obstetrik-ginekologik-dan-saluran-kemih/74-gangguan-saluran-kemih/745-disfungsi-ereksi-1 [Diakses 23 Desember 2023].
  • Drug Bank. (2021). Sibutramine: Uses, Interactions, Mechanism of Action. DrugBank. Tersedia daring pada: https://go.drugbank.com/drugs/DB01105 [Diakses 23 Desember 2023].
  • Jilani TN, Preuss CV, Sharma S. 2023. Theophylline. Tersedia daring pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519024/\ [Diakses 23 Desember 2023].
  • MIMS. (2023). Glibenclamide: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution. MIMS. Tersedia daring pada: https://www.mims.com/indonesia/drug/info/glibenclamide?mtype=generic [Diakses 23 Desember 2023].
  • Siebenhofer, A., Horvath, K., Jeitler, K., Berghold, A., Stich, A. K., Matyas, E., Pignitter, N., & Siering, U. (2009). Long-term effects of weight-reducing drugs in hypertensive patients. The Cochrane database of systematic reviews, (3). https://doi.org/10.1002/14651858.CD007654.pub2
  • Wicaksono, A. B. (2023). Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Tersedia daring pada: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2154/jamu-obat-herbal-terstandar-dan-fitofarmaka [Diakses 23 Desember 2023].