Ruam Popok pada Bayi, Apa yang Harus Dilakukan?

EL
Ellen Nathania
1

Ruam popok merupakan salah satu masalah kulit yang paling sering dikhawatirkan oleh orang tua, terutama pada bayi yang masih menggunakan popok setiap hari. Ketika mengalami ruam popok, anak cenderung menjadi rewel dan tidak nyaman sehingga menimbulkan kecemasan pada orang tua. Ruam popok umumnya timbul pada usia 9-12 bulan1,2. Penggunaan popok dalam jangka waktu lama pada kulit bayi yang masih sensitif membuat bayi lebih rentan mengalami kondisi ini2.


Secara klinis, ruam popok ditandai dengan kemerahan, rasa gatal, hingga lecet pada area yang tertutup popok. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak. Iritasi dapat timbul akibat paparan urin dan feses yang menyebabkan kelembapan berlebih. Kondisi ini kemudian diperparah oleh gesekan popok dalam waktu lama. Selain itu, ruam popok juga dapat disebabkan oleh infeksi pada kulit. Infeksi paling umum disebabkan oleh jamur Candida albicans2.


Ruam popok merupakan kondisi yang sangat umum terjadi pada bayi. Diperkirakan satu dari dua bayi mengalami ruam popok pada tahun pertama kehidupannya. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko ruam popok antara lain usia, pola makan, dan frekuensi penggantian popok. Bayi baru lahir lebih berisiko karena struktur kulitnya belum terbentuk sempurna. Sebaliknya, pemberian ASI pada bayi dapat menurunkan risiko ruam popok. Selain itu, penggantian popok secara berkala—terutama ketika telah terkontaminasi urin atau feses—dapat mengurangi durasi paparan kelembapan berlebih sehingga membantu menurunkan risiko terjadinya ruam2. Jika bayi mengalami ruam popok, orang tua tak perlu panik. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi ruam popok pada bayi.


1. Menjaga Kebersihan

Menjaga kebersihan kulit bayi sangat penting untuk mempertahankan fungsi pelindung kulit dan mencegah gangguan kulit di kemudian hari. Area kulit yang bersinggungan dengan popok perlu dibersihkan dengan air dan sabun khusus bayi. Tisu basah memang dapat digunakan saat bepergian. Namun, kandungan pada produk yang dipilih juga perlu diperhatikan. Disarankan memilih tisu basah tanpa kandungan sabun, essential oil, atau parfum, dan deterjen keras yang dapat mengiritasi kulit3.


Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan kebersihan saat mengganti popok. Pastikan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok guna mencegah kontaminasi. Saat membersihkan area popok dengan tisu basah, lakukan gerakan mengusap dari depan ke belakang secara perlahan. Hindari menggosok terlalu keras karena dapat memperburuk iritasi⁴.


2. Pemilihan dan Penggunaan Popok

Pilih popok dengan daya serap yang baik untuk mencegah kelembapan berlebih dan mengurangi kontak kulit dengan iritan. Selain memiliki daya absorbsi yang baik, popok juga harus memungkinkan sirkulasi udara yang optimal agar kulit bayi tetap dapat bernapas. Sirkulasi udara yang baik membantu mengurangi. Popok sekali pakai umumnya lebih disarankan dibandingkan popok kain karena memiliki daya serap yang lebih tinggi. Kemampuan ini dapat membantu mengurangi durasi kontak kulit dengan urin dan feses, sehingga berperan dalam menurunkan potensi serta tingkat keparahan ruam popok⁴. 


Selain itu, penting untuk mengganti popok secara berkala untuk menjaga popok tetap kering. Popok yang telah terkontaminasi urin atau feses harus segera diganti untuk meminimalkan kelembapan berlebih dan kontak dengan iritan. Pada bayi baru lahir, popok sebaiknya diganti setiap 2 jam, sedangkan pada bayi yang lebih besar dapat diganti setiap 3-4 jam sekali⁴.


3. Gunakan Pelembap

Pelembap atau krim pelindung dapat membantu meningkatkan fungsi perlindungan kulit dengan membentuk lapisan penghalang antara kulit dan popok maupun kontaminan seperti urin dan feses. Pelembap dapat diaplikasikan pada area popok setiap mengganti popok untuk mengatasi ruam. Beberapa kandungan pada pelembap yang direkomendasikan seperti zinc oxide, petrolatum, minyak ikan dan lanolin3. Sementara itu, penggunaan pelembap dengan kandungan pewangi, pewarna sintetik, propilen glikol, dan pengawet perlu dihindari karena dapat menyebabkan iritasi dan reaksi alergi pada kulit bayi yang sensitif5.


Penggunaan minyak kayu putih atau minyak telon untuk mengatasi ruam popok sebaiknya dihindari, karena kulit bayi masih tipis dan sangat sensitif. Kedua jenis minyak tersebut mengandung bahan yang berpotensi mengiritasi kulit, sehingga penggunaan yang tidak tepat justru dapat memperparah atau memicu timbulnya ruam⁶.

Sebagai alternatif yang lebih aman, orang tua dapat menggunakan minyak zaitun atau virgin coconut oil (VCO). Kedua minyak ini lebih ramah bagi kulit bayi. Kandungan vitamin E serta asam lemak di dalamnya dapat membantu menjaga kelembapan kulit sekaligus mendukung perlindungan kulit dari iritasi dan ruam7,8.


 

Apabila langkah-langkah di atas telah dilakukan namun dalam 2-3 hari kondisi ruam tidak menunjukkan perbaikan,atau justru semakin memburuk, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 


Artikel ini di review oleh : apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm


Referensi


  1. Yoningsih, P., Rohmah, H. N. F., Siregar, R., & Sugiharti, R. K. (2025). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ruam Popok Pada Bayi: Factors Associated with Diaper Rash in Babies. Jurnal Media Informatika, 6 (5), 2593-2599.
  2. Benitez Ojeda, Anthonella, and Magda D. Mendez. (2023). “Diaper Dermatitis.” Tersedia daring pada: www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559067/. [Diakses 19 Mar 2026].
  3. Blume-Peytavi U, Kanti V. (2018). Prevention and Treatment of Diaper Dermatitis. Pediatr Dermatol. 35 Suppl 1:s19-s23.
  4. Wesner, Erin, et al. (2019). Art of Prevention: The Importance of Proper Diapering Practices.” International Journal of Women’s Dermatology, vol. 5, no. 4, pp. 233–234, https://doi.org/10.1016/j.ijwd.2019.02.005.
  5. Meissner, Morgan. (2020). What Types of Products Are Safe for Baby’s Skin?. Tersedia daring pada : https://www.healthline.com/health/baby/baby-skin-care-ingredients#ingredients-to-avoid [Diakses 19 Mar 2026].
  6. IDAI. 2014. Memilih Produk Kulit Untuk Si Kecil. Tersedia daring pada: www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memilih-produk-kulit-untuk-si-kecil. [Diakses 28Mar 2026].
  7. Ersada, A. P., and Siska Ningtyas Prabasari. (2024). Pengaruh Virgin Coconut Oil (VCO) Terhadap Ruam Popok Batita. Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. 2.4 : 69-84.
  8. Efrianty, N., Sartika, R. C. T., Sulardi, S., & Komalasi, U. (2024). Application of olive oil to the degree of diaper rash in babies aged 0-12 months. International Journal of Health Sciences, 8(S1), 690–695. https://doi.org/10.53730/ijhs.v8nS1.14891 


Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.