Rambut Rontok pada Perempuan: Penyebab, Nutrisi, dan Kapan Harus ke Dokter

AP
Apt. Firda Silvia Pramashela
9

Rambut rontok merupakan keluhan yang cukup umum dialami perempuan. Kerontokan bisa terlihat dari banyaknya rambut yang tertinggal di sisir atau saat keramas, rambut yang semakin tipis, hingga belahan rambut yang terlihat semakin lebar. Tidak semua rambut yang rontok merupakan tanda masalah. Rambut memang mengalami siklus pertumbuhan dan secara alami akan mengalami fase istirahat sebelum akhirnya terlepas. Namun, kerontokan yang berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai penipisan rambut perlu diperhatikan.


Salah satu jenis kerontokan yang umum pada perempuan adalah female pattern hair loss (FPHL). Penelitian pada populasi perempuan tertentu menunjukkan bahwa prevalensi FPHL meningkat seiring bertambahnya usia, dari sekitar 6% pada perempuan berusia di bawah 50 tahun hingga sekitar 38% pada perempuan berusia 70 tahun ke atas [1].


Rambut Rontok Normal atau Perlu Diwaspadai?

Kerontokan perlu mendapat perhatian apabila rambut terlihat semakin tipis, belahan rambut semakin lebar, volume rambut berkurang, muncul area botak, atau kerontokan terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah banyak.


Kerontokan yang muncul secara menyeluruh setelah tubuh mengalami stres fisik dapat merupakan telogen effluvium. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti penyakit, persalinan, stres fisik, hingga penurunan berat badan yang signifikan [3]. Menariknya, kerontokan akibat telogen effluvium umumnya tidak langsung muncul setelah pemicunya terjadi, sering kali sekitar 2–3 bulan setelah peristiwa tersebut [3].


Apa Saja Penyebab Rambut Rontok pada Perempuan?


Rambut rontok dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan terkadang lebih dari satu faktor dapat terjadi secara bersamaan. Faktor genetik dan hormonal berperan dalam terjadinya FPHL. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rambut yang semakin tipis terutama di bagian tengah atau atas kepala [2,4]. Selain FPHL, berbagai kondisi seperti perubahan hormonal, penyakit tertentu, stres fisiologis, dan perubahan berat badan dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut dan berkontribusi terhadap kerontokan [2,3].


Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah asupan nutrisi. Kekurangan nutrisi tertentu, terutama pada kondisi asupan yang tidak mencukupi, dapat berkontribusi terhadap kerontokan rambut [5]. Namun, penting diingat bahwa rambut rontok tidak selalu berarti tubuh kekurangan vitamin. Penyebabnya perlu dilihat secara menyeluruh.


Nutrisi yang Dibutuhkan untuk Menjaga Kesehatan Rambut

Pola makan yang beragam dan seimbang dapat membantu memenuhi nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung kesehatan rambut. Beberapa nutrisi yang penting antara lain [5]:

• Protein

Untuk pembentukan keratin sebagai komponen utama rambut. Sumbernya antara lain telur, ikan, daging, susu, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.

• Zat besi

Berperan dalam berbagai proses seluler dan transportasi oksigen. Sumbernya meliputi daging merah, makanan laut, telur, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.

• Zinc

Berperan dalam sintesis protein dan pembelahan sel. Sumbernya antara lain daging, makanan laut, telur, susu, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

• Vitamin D

Berperan dalam fungsi dan regulasi folikel rambut. Sumbernya antara lain ikan berlemak, kuning telur, dan makanan yang difortifikasi.

• Vitamin C

Membantu pembentukan kolagen dan penyerapan zat besi dari sumber nabati. Sumbernya antara lain jeruk, jambu, kiwi, dan paprika.

• Vitamin B12 dan folat

Berperan dalam membantu pembentukan sel dan metabolisme tubuh. Vitamin B12 banyak terdapat pada makanan hewani, sedangkan folat dapat diperoleh dari sayuran hijau dan kacang-kacangan.

• Biotin

Berperan dalam metabolisme berbagai nutrien dan dapat diperoleh dari telur matang, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan [5–7].


Apakah Suplemen Bisa Mengatasi Rambut Rontok?

Suplemen rambut yang mengandung biotin, zinc, zat besi, atau vitamin D banyak ditemukan di pasaran. Namun, suplemen tidak selalu diperlukan untuk mengatasi rambut rontok. Jika kerontokan disebabkan oleh kekurangan nutrisi tertentu, memperbaiki kekurangan tersebut dapat menjadi bagian dari penanganan. Sebaliknya, jika tidak terdapat kekurangan, konsumsi suplemen belum tentu memberikan manfaat [5].


Hal ini juga berlaku untuk biotin. Meskipun sering dipromosikan untuk kesehatan rambut, bukti mengenai manfaat biotin untuk mengatasi kerontokan pada individu sehat masih terbatas [6,7]. Karena itu, sebaiknya jangan mengonsumsi suplemen dalam dosis tinggi hanya karena mengalami rambut rontok. Pemenuhan nutrisi melalui makanan yang beragam tetap menjadi pilihan utama.


Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter?

Konsultasikan kondisi rambut ke dokter, terutama dokter spesialis kulit dan kelamin, apabila:

- Rambut terus menipis atau kerontokan semakin berat;

- Belahan rambut semakin lebar;

- Muncul area botak atau kerontokan berbentuk bercak;

- Kerontokan terjadi secara tiba-tiba dan banyak;

- Kulit kepala mengalami kemerahan, sisik, nyeri, atau gatal menetap;

- Kerontokan terjadi setelah penurunan berat badan yang signifikan.


Dokter dapat mengevaluasi pola kerontokan dan faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Jika diperlukan, pemeriksaan tertentu dapat dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kekurangan nutrisi atau kondisi medis yang mendasari [2,3,5].


Kesimpulan

Rambut rontok pada perempuan tidak selalu disebabkan oleh kekurangan vitamin. Faktor genetik, hormonal, stres fisiologis, perubahan berat badan, penyakit tertentu, dan status nutrisi dapat berperan dalam terjadinya kerontokan [2–5]. Sehingga, menjaga pola makan seimbang dengan asupan protein, zat besi, zinc, vitamin D, vitamin C, vitamin B12, folat, dan nutrisi lainnya dapat membantu mendukung kesehatan rambut. Namun, penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.


Jika kerontokan berlangsung terus-menerus atau semakin berat, jangan hanya mengandalkan suplemen. Jangan ragu untuk mendapatkan bantuan profesional untuk mengetahui penyebabnya merupakan langkah pertama untuk mendapatkan penanganan yang tepat.


Artikel ini ditinjau oleh:

apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm


Daftar Pustaka


1. Birch MP, Messenger JF, Messenger AG. Hair density, hair diameter and the prevalence of female pattern hair loss. British Journal of Dermatology. 2001;144(2):297–304. doi:10.1046/j.1365-2133.2001.04018.x. Dapat diakses secara online di https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1046/j.1365-2133.2001.04018.x


2. Bertoli MJ, Sadoughifar R, Schwartz RA, Lotti TM, Janniger CK. Female pattern hair loss: A comprehensive review. Dermatologic Therapy. 2020;33(6):e14055. doi:10.1111/dth.14055

Dapat diakses secara online di

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/dth.14055


3. Yin GOC, Siong-See JL, Wang ECEC. Telogen Effluvium – a review of the science and current obstacles. Journal of Dermatological Science. 2021;101(3):156–163. doi:10.1016/j.jdermsci.2021.01.007

Dapat diakses secara online di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0923181121000086


4. Ho CY, et al. Female Pattern Hair Loss: An Overview with Focus on the Genetics. Genes. 2023;14(7):1326. doi:10.3390/genes14071326.

Dapat diakses secara online di https://www.mdpi.com/2073-4425/14/7/1326


5. Almohanna HM, Ahmed AA, Tsatalis JP, Tosti A. The Role of Vitamins and Minerals in Hair Loss: A Review. Dermatology and Therapy. 2019;9(1):51–70. doi:10.1007/s13555-018-0278-6

Dapat diakses secara online di https://link.springer.com/article/10.1007/s13555-018-0278-6


6. Patel DP, Swink SM, Castelo-Soccio L. A Review of the Use of Biotin for Hair Loss. Skin Appendage Disorders. 2017;3(3):166–169. doi:10.1159/000462981

Dapat diakses secara online di

https://karger.com/sad/article-abstract/3/3/166/291279/A-Review-of-the-Use-of-Biotin-for-Hair-Loss


7. Yelich A, Jenkins H, Holt S, Miller R. Biotin for Hair Loss: Teasing Out the Evidence. Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. 2024;17(8):56–61.

Dapat diakses secara online di

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11324195/

Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.