Jumat, 18 Agustus 2017

Asuhan Keperawatan VARISELA

Asuhan Keperawatan VARISELA

A. KONSEP MEDIS

1. Definisi
Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama Chicken – pox.
Varisela adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit.
Varisela atau cacar air merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster dengan gejala-gejala demam dan timbul bintik-bintik merah yang kemudian mengandung cairan.
perawat
askep

2. Etiologi
Virus Varicella Zoster, termasuk Famili Herpes Virus.

3. Patofisiologi
Menyebar Hematogen.
Virus Varicella Zoster juga menginfeksi sel satelit di sekitar Neuron pada ganglion akar dorsal Sumsum Tulang Belakang. Dari sini virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk Herpes Zoster.
Sekitar 250 – 500 benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh, tidak terkecuali pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata , termasuk bagian tubuh yang paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu , lesi teresebut akan mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1 – 3 minggu bekas pada kulit yang mengering akan terlepas.
Virus Varicella Zoster penyebab penyakit cacar air ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal dari batuk atau bersin penderita dan diterbangkan melalui udara atau kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi.
Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui paru-paru dan tersebar kebagian tubuh melalui kelenjar getah bening.
Setelah melewati periode 14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya ke jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanak dan pada kalau sudah dewasa. Sebab seringkali orang tua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air lebih dini.
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak ; dinegara-negara  bermusin empat, 90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak , pada umumnya penyakit ini tidak begitu berat.
Namun di negara-negara tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja dan orang dewasa yang terserang Varisela. Lima puluh persen kasus varisela terjadi diatas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varisela semakin bertambah berat.

4. Sign / Symtoms
- Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh.
- Pusing.
- Demam dan kadang – kadang diiringi batuk.
- Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip kulit yang terangkat karena terbakar).
- Terakhir menjadi benjolan – benjolan kecil berisi cairan.
Sebelum munculnya erupsi pada kulit, penderita biasanya mengeluhkan adanya rasa tidak enak badan, lesu, tidak nafsu makan dan sakit kepala. Satu atau dua hari kemudian, muncul erupsi kulit yang khas.
Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna kemerahan (makula), yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil pada kulit), papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung kecil berisi cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh (pustula). Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan mengering tanpa meninggalkan abses.

5. Komplikasi
Komplikasi Tersering secara umum :
a. Pnemonia
b. Kelainan ginjal.
c. Ensefalitis.
d. Meningitis.
Komplikasi yang langka :
a. Radang sumsum tulang.
b. Kegagalan hati.
c. Hepatitis.
d. Sindrom Reye.
Komplikasi yang biasa terjadi pada anak-anak hanya berupa infeksi varisela pada kulit, sedangkan pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi berupa radang pari-paru atau pnemonia 10 – 25 lebih tinggi dari pada anak-anak..

6. Treatment
Karena umumnya bersifat ringan, kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain istirahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru sering menjadi masalah adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak ditahan-tahan , jari kita tentu ingin segera menggaruknya. Masalahnya,bila sampai tergaruk hebat, dapat timbul jaringan parut pada bekas gelembung yang pecah. Tentu tidak menarik untuk dilihat.

Umum
1. Isolasi untuk mencegah penularan.
2. Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein).
3. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat.
4. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air mandi.
5. Upayakan agar vesikel tidak pecah.
- Jangan menggaruk vesikel.
- Kuku jangan dibiarkan panjang.
- Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pda kulit, jangan digosok.
Farmakoterapi
1. Antivirus dan Asiklovir
Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat, misalnya pada penderita leukemia atau penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh.
2. Antipiretik dan untuk menurunkan demam
- Parasetamol atau ibuprofen.
- Jangan berikan aspirin pda anak anda, pemakaian aspirin pada infeksi virus (termasuk virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal, yaitu Syndrom Reye.
3. Salep antibiotika = untuk mengobati ruam yang terinfeksi.
4. Antibiotika = bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit.
5. Dapat diberikan bedak atau losio pengurang gatal (misalnya losio kalamin).
Pencegahan :
1. Hindari kontak dengan penderita.
2. Tingkatkan daya tahan tubuh.
3. Imunoglobulin Varicella Zoster
- Dapat mencegah (atau setidaknya meringankan0 terjadinya cacar air. Bila diberikan dalam waktu maksimal 96 jam sesudah terpapar.
- Dianjurkan pula bagi bayi baru lahir yang ibunya menderita cacar iar beberapa saat sebelum atau sesudah melahirkan.


B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data subjektif : pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
Data Objektif :
a. Integumen : kulit hangat, pucat.
adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi cairan jernih.
b. Metabolik : peningkatan suhu tubuh.
c. Psikologis : menarik diri.
d. GI : anoreksia.
e. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake makanan.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.

3. Intervensi
1) Diagnosa 1
a. Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam.
b. Intervensi
- Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dnegan pasien.
Rasional : mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi.
- Gunakan skort, sarung tangan, masker dan teknik aseptic, selama perawatan kulit.
Rasional : mencegah masuknya organisme infeksius.
- Awasi atau batasi pengunjung bila perlu.
Rasional : mencegah kontaminasi silang dari pengunjung.
- Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi.
Rasional : rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
- Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh)
Rasional : meningkatkan penyembuhan.
- Awasi tanda vital
Rasional : Indikator terjadinya infeksi.

2) Diagnosa 2
a. Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan.
b. Intervensi
- Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
Rasional : mengetahui keadaan integritas kulit.
- Berikan perawatan kulit
Rasional : menghindari gangguan integritas kulit.


3) Diagnosa 3
a. Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nitrisi sesuai dengan kebutuhan.
b. Intervensi
- Berikan makanan sedikit tapi sering.
Rasional :  membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan.
- Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.
Rasional : meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan.

4) Diagnosa 4
a. Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuhnya.
b. Intervensi
- Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.
Rasional : memanfaatkan kemampuan dapat menutupi kekurangan.
- Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.
Rasional : memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan.

5) Diagnosa 5
a. Tujuan : adanya pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan.
b. Intervensi
- Diskusikan perawatan erupsi pada kulit.
Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan menngkatkan kemandirian.

4. Implementasi
1) Diagnosa 1
a. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien.
b. Menggunakan skort,masker, sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka.
c. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu.
d. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi.
e. Membersihkan jaringan mefrotik.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).
f. Mengawasi tanda vital.

2) Diagnosa 2
a. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
b. Memberikan perawatan kulit.

3). Diagnosa 3
a. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
b. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.

4) Diagnosa 4
a. Membantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.
b. Mengeksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.

5) Diagnosa 5
a. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit.

5. Evaluasi
Evaluasi disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam intervensi.


DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.

Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
Varisela . http://www.aventispasteur.co.id/news.asp?id7
Varisela Klinikku. http://www.klinikku.com/pustaka/medis/integ/varisela-klinis.html
Cacar Air. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk_php?id=&iddtl



8 Manfaat Akar Kuning Yang Berkhasiat Bagi Kesehatan

Manfaat akar kuning yang berkhasiat sudah tidak perlu diragukan lagi dalam dunia kesehatan. Tanaman ini tergolong jenis obat herbal yang memiliki sejuta fungsi.

Akar kuning memiliki nama latin Arcangelisia Flava Merr jika dalam bahasa inggris bernamaYellow Fruited Moonseed. Tumbuhan hidup di daerah tropis, di Indonesia bisa ditemukan di Sumatra, Jawa, Papua dan Kalimantan.

Yang Berkhasiat Herbal
Akar Kuning HPAI
Masih sedikit sekali orang yang mengetahui manfaat dari akar kuning bagi kesehatan. Diberbagai daerah khususnya Kalimantan sejak dulu akar kuning sudah dijadikan sebagai obat tradisional.

Akar pohon ini dikenal sebagai obat alergi, antibiotic, anti hipertensi dan anti malaria. Jika dilihat dari fungsinya yang sangat banyak maka dari itu kami akan membahasanya lebih jauh agar anda tahu kegunaannya.

Dalam akar kuning mengandung bebagai macam zat yang baik bagi kesehatan. Diantaranya adalah saponin, alkaloid, dan zat lender yang sangat bagi tubuh manusia.

Karena tingginya zat saponin didalamnya maka akar kuning terasa sangat pahit ketika diminum. Perlu kita tahu jika tanaman yang berasa pahit kebanyakan memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan.

Kegunaan dari akar kuning sendiri :
- Sebagai antibiotic alami untuk sinusitis.
- Sebagai obat sakit pinggang.
- Sebagai anti hipertensi pada penderita tekanan darah tinggi.
- Sebagai detoksifikasi racun.
- Sebagai obat rematik dan nyeri sendi.
- Sebgai obat saluran cerna dan cacingan.
- Sebagai antidiabetes pada penderita diabetes mellitus.
- Dipercaya sebagai obat anti kanker yang alami tanpa perlu kemoterapi.

Cara menggunakan akar kuning :
Ambilah beberapa batang akar kuning dan iris tipis dan jemur sampai kering. Jika sudah rebuslah dengan dua gelas air putih hingga air berubah menjadi kuning kecoklatan. Dinginkan dan berikat sedikit garam halus untuk mengurangi rasa pahitnya. Minumlah sehari 1x secara rutin dan rasakan manfaatnya.

Kamis, 17 Agustus 2017

Asuhan Keperawatan VENA VARIKOSA

VENA VARIKOSA

1. Pengertian
Varises adalah pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena. Vena varikosa ekstremitas bawah adalah kelainan yang sangat lazim, yang mengenai 15-20 % populasi dewasa (Sabiston 1994). Varises vena adalah distensi, dan  bentuk berlekuk-lekuk dari vena-vena superficial (safena) dari kaki (Engram B., 1999). Varises tungkai bawah adalah pemanjangan, berkelok-kelok, pembesaran suatu vena superficial, profunda dan kommmunikan pada titik Dodd (pertengahan paha), Byod (sebelah medial lutut) dan gastronemicus (tempat keluarnya vana saphena parva)

Vena Varikosa
Asuhan Keperawatan
2. Insiden
a. Riwayat keluarga bisa didapatkan dalam sekitar 15% klien.
b. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada wanita (rasio wanita terhadap pria 5:1), dengan banyak wanita menentukan bahwa saat mulainya varices terlihat dan simtomatik pada waktu kehamilan.
c. Umur > 37 tahun pada wanita
d. Obesitas > 115% dari BBR (Berat Badan Relatif)
e. Orthostatik (berdiri lama)

3. Klasifikasi
Vena varikosa diklasifikasikan (Sabiston 1994):
a. Vena varikosa primer, merupakan kelainan tersendiri vena superficial ekstremitas bawah
b. Vena varikosa sekunder, merupakan manifestasi insufisiensi vena profunda dan disertai dengan beberapa stigmata insufisiensi vena kronis, mencakp edema, perubahan kulit, dermatitis stasis dan ulserasi.
Manifestasi klilnis (Puruhito, 1995) :
a. varises truncal (stem varicosis)
b. Varises retikularis
c. Varises kapilaris
Gradasi keluhan klinis (Puruhito, 1995) :
a. stadium I : tak menentu
b. stadium II : phleboectasia
c. Stadium III : varises sesungguhnya, reversal blood-flow
d. Stadium IV : ulcus varicosum, kelainan tropic, Kronik vanous Insufisiensi (CVI)

4. Patofisiologi

vena ekstremitas bawahkehilangan kompetensi katup.

Distensi terus-menerus dan lama

pembesaran dimensi tranversa dan longitudinal
(bertambah volumenya, venoli-venolimakin besar sampai ke vena cava)

berkelok-keloknya vena subkutis yang khas
pembendungan (vena superfisialis, vena profunda, system komunikan)

Vena varikosa gramde I/II

Terapi konservatif :
1. Obat venoruton
2. Skleroterapi
3. Lokal : antiphlogistikum/Zinc Zalf) Vena varioksa grade III/Ulkus (IV)


Operasi Stripping/ekstraksi babcock

Preoperasi : (kecemasan, ketakutan)
Inoperasi   : Perubahan perfusi jaringan, risiko infeksi, hemorargi,
tromboplebitis
Postoperasi : risiko aspirasi, nyeri, risiko cedera, risiko hipotermia

Keterangan :
Distensi vena ekstremitas bawah yang berdinding relative tipis secara berlebihan , terus-menerus dan lama, menimbulkan pembesaran dimensi tranversa dan longitudinal. Pembesaran longitudinal mengakibatkan berkelok-keloknya vena subkutis yang khas, distensi transversa mengakibatkan pembendungan yang terlihat dan dapat dipalpasi yang bertanggung jawab untuk gambaran kosmetik dan simtomatik. Patofisiologi vena varikosa adalah kehilangan kompetensi katup.

5. Pemeriksaan klinis (diagnostic)
Pemeriksaan klinis dapat dilakukan dengan :
a. Test trendelenberg
b. Test myer
c. Test perthes
d. Test Doppler
e. Radiologi (Phlebografi, morfometri, phlethysmografi)

6. Terapi Dan Tindakan
6.1 Konservatif, simtomatik dan nonoperatif :
1. Menghindari berdiri dalam waktu yang lama
2. penurunan berat badan dan aktivitas otot seperti berjalan
3. Penggunaan kaos penyokong ringan yang nyaman, Pemasangan stocking elastis yang pas karena  obliterasi vena superficial (vena safena mmana)
4. KOnservatif :
a. Obat Venoruton (Gol hydroxyl Rutoside) 600 mg/hari minimal 2 minggu
b. Skleroterapi (tak dipakai lagi)
c. Lokal antiphlogistikum (Zinc Zalf (Pasta LAssar)

6.2 Operatif :
Terapi bedah :
a. Stripping vena saphena (V. shapena magna, v. saphena psotrior, dan v, saphena parva) dengan menggunakan alat stripper (vena dikeluarkan)
b. Ligasi VV kommunikans yaitu tempat-tempat di mana diperiksa ada kebocoran, diikat dan dipotong.
c. Ekstraksi (Babcock) dengan sayatan kecil-kecil vena-vena yang berkelok dicabut keluar.Ligasi, Stripping dan Ekstraski Babcock.

6.3 KOmbinasi

7. Komplikasi
Komplikasi mencakup :
Trauma pada nervus safenus dan suralis dengan diserta hiperestesia kulit
Pembentukan hematoma subkutis dan kadang-kadang stripiing arteri tak sengaja

8. Perawatan paska bedah
Ekstremitas harus ditinggikan selama 4-6 jam
Balutan penekan dipasang di kamar operasi seharisnya tetap dipakai selama 4-6 hari, dengan menggunakan balutan elastis (Balutan ACE)
24-48 jam paska bedah program ambulasi progresif seharusnya dimulai
KLien diijinkan berjalan beberpa menitper jam, meningkat bertahap tiap hari dan tetap terlentang dengan ekstremitas ditinggikan, bila sedang berjalan. Berdiri (tanpa jalan) dan duduk harus dihindari serta
stocking (stocking antiembolism) yang sesuai dengan kebiasaan harus dipakai delama beberapa bulan


ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM VASKULER (VENA VARIKOSA)

II. Pengkajian Preoperasi
Pengkajian focus preoperative meliputi :
a. Identitas
Kelainan ini lebih sering ditemukan pada wanita (rasio wanita terhadap pria 5:1), dengan banyak wanita menentukan bahwa saat mulainya varices terlihat dan simtomatik pada waktu kehamilan.

b. Alasan masuk rumah sakit
Kosmetik, gejala simtomatik lainnya seperti : kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema, Perdarahan spontan/akibat trauma dan Hiperpigmentasi

c. Riwayat penyakit
Profokatif, pemanjangan, berkelok-kelok dan pembesaran suatu vena
KUlaitatif, kuantitatif, semakin berat
Regio ekstremitas bawah (kedua kaki)
Severity, sakitnya mengganggu kosmetik dan aktivitas sehari-hari (kelelahan dan sensasi berat, kram, nyeri , odema)
Time, semakin hari semakin berat dan bertambah besar

d. Riwayat atau factor-faktor resiko :
1. kelemahan congenital/tidak adanya katup
2. Pekerjaan yang nmengharuskan berdiri/duduk dalam waktu lama tanpa kontrasi otot intermettentrauma langsung ke katup vena perforantes
3. kehamilan atau kelainan hormonal
4. riwayat keluarga dengan varises vena

e. pemenuhan pola kebutuhan sehari-hari :
1. Persepsi
Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi), yang kemudian diberitahukan kepada ahli bedah apaakah diperlukan informasi lebih banyak (Informed consent). Pengalaman pembedahan masa lalu dapat meningkatkan kenyamanan fisik dan psikis serta mencegah komplikasi.

2. Status nutrisi
Secara langsung mempengaruhi respon pada trauma pembedahan dan anestesi. Sebelumnya  perlu masukan karbohidrat dan protein untuk  keseimbangan nitrogen negative. Puasa perlu dipersiapkan 8 jam sebelum operasi.

3. Status cairan dan elektrolit
Klien dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit cendrung mengalami komplikasi syok, hipotensi, hipoksia dan distritmia baik intraoperasi dan paska operasi.

4. Status emosi
Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan tergantung pengalaman masa lalu, strategi koping, system pendukung dan tingkat pembedahan. Kebanyakan klien yang mengantisipasi mengalami pembedahan dengan anssietas dan ketakutan.Ketidakpastian prosedur pembedahan menimbulkan ansietas, nyeri, insisi dan imobilisasi.

f. Pemeriksaan fisik
Status lokalis :
1. Dilatasi, lekuk-lekuk vena superfisialis pada kaki
2. Keluhan sakit dangkal, kelelahan, kram, dan kaki berat, khsusnya setelah berdiri lama
3. pigmentasi kecoklatan pada kulit
4. bengkak, yang secara umum berkurang dengan peninggian tungkai

g. Pemeriksaan diagnostik
1. Venogram menunjukkan lokasi pasti dari varises kedua vena superficial dan dalam.
2. Test  perfthes (klien berdiri sampai vena varikosa tampak dan digambar)

h. Diagnosa keperawatan
1. Praoperasi :
- Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalam tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
2. Inoperasi :
- Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari ligasi dan pemotongan vena
- Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
3. Paskaoperasi :
- Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi
- NYeri berhubungan dengan sekunder terhadap erauma pada jaringan dan saraf

II. perencanaan
1. Praoperasi :
- Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengalaman tentang operasi infomrasi (sifat operasi, semua pilihan alternative, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi),
Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria :
- KLien dapat menyatakan rasa cemas dan masalahnya
- Klien tenang dan tidak gelisah

INTERVENSI RASIONAL
1. Ciptakan saling percaya
2. Dorong pengungkapan masalah atau rasa cemas


3. jawab pertanyaan yang berhubungan dengan penatalaksanaan keperawatan dan perawatan medis
4. Selesaikan persiapan pasien sebelum masuk ke kamar operasi
5. meminimalkan keributan di lingkungan
6. Orientasikan pada ruang operasi (ulangi informasi untuk memungkinkan penyerapan)
7. Pemantauan psikologis klien

8. Tunjukkan perhatian dan sikap mendukung

9. Beri penjelasan singkat tentang prosedur operasi


10. Beri reinforcement terhadap pernyataan yang positif dan mendukung
1. Dasar untuk menemukan dan pemcehan masalah.
2. Perasaan cemas yang diungkapakan pada orang yang dipercaya akan memberikan dampak lega dan merasa aman.
3. Pertanyaan yang dijawab dan dimengerti akan mengurangi rasa cemasnya.
4. Persiapan yang matang dapat menengkan suasana lingkungan sebelum operasi.
5. Lingkungan rebut memuat stress.
6. Lingkungan yang dimengerti akan mendorong kenyamanan dan keamanan klien.
7. Tingkat kecemasan intoleran akan mengganggu pelaksanaan operasi dan anestesi.
8. Support system meningkatkan mekanisme koping klien dalam menghadapi masalah.
9. Penjelasan tentang informaasi seputar bedah memberikan informasi yang positif dan pengalaman persiapan diri dalam pembedahan.
10. Reinforcement meberikan dorongan system social untuk meningkatan koping mekanisme.
11.

4. Intraoperasi :
- Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan efek sekunder dari ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : Perfusi jaringan normal/baik
Kriteria :
- Penurunan edema
- Ekstremitas hangat
- Nadi pedalis dapat diraba



INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau status neurovaskuler setiap 15 menit


2. Observasi tanda-tanda vital


3. Balance cairan


4. pantau saturasi oksigen pada jaringan perifer
1. Pencatatan perdarahan selama operasi < 250 cc, pulsasi nadi pedalis merupakan data pendukung tentang perfusi jaringan masih baik.
2. Salah satu tanda penurunan pefusi jairngan menurun adalah tensi menurun, suhu akral dingin dan nadi meningkat.
3. CAiran masuk dan perdarahan serta output lainnya perlu diperhiutngkan untuk memenuhi kebutuhan balance cairan
4. Saturasi oksiegen > 95% menunjukkan perfusi jaringan perifer masih baik.


- Risiko tinggi infeksi, hemorargi dan tromboplebitis berhubungan dengan efeks sekunder ligasi dan pemotongan vena
Tujuan : infeksi tidak terjadi
- perdarahan dirawat
- lapangan operasi bersih
INTERVENSI RASIONAL
1. Persiapan operasi secara seaseptik dan antiseptic


2. DAsar doek operasi dilandasi dengan perlak, plastic atau bahan lain yang kedap air

3. Perwatan darah (kasa steril/penyedot cairan atau darah)

4. Tambahkan doek diatas doek yang penuh dengan perdarahan 1. Aseptik merupakan cara untuk membuat ruang antikontminasi. Dan alat-alat bersih dan tak terkontaminasi, sehingga pajangan infeksi minimal.
2. Darah dan rembsean darah merupakan media yang paling baik dalam perkembangan kuman atau bakteri
3. Darah bekas insisi, lligasi dibersihkan untuk mencegah perdarahan yang tercecer, tromboplebitis.
4. Penambahan doek untuk mencegah infeksi atau kontaminasi.

5. Paskaoperasi :
- Risiko terhadap aspirasi berhubungan dengan somnolen dan peningkatan skeresi sekunder intubasi
Tujuan : tidak terjadi aspirasi
Kriteria :
- Jalan nafas lancar
- Tidak ada tanda-tanda syok
- Sekresi tidak ada
- Tanda-tanda vital normal (tensi 130/80, nadi 88 kali/menit, RR 16-20 kali/menit)

INTERVENSI RASIONAL
1. Atur posisi klien tanpa bantal, ekstensi dan miring kanan/kiri


2. Kaji ekstubasi jalan nafas dan aspirasi (muntahan atau lidakh tertekuk)
3. Observasi Tanda-tanda vital

4. Bersihkan jalan nafas dengan slem suction


5. Oritentasi klien dengan menggunakan observasi aldert.
1. Poisis ini untuk meluruskan jalan nafas sehingga pemenuhan akan oksigen terpenuhi dan jalan nafas bersih dan lancer
2. Lidah tertekuk dan muntahan dapat menghambat/membuntui jalan nafas.
3. Hipotensi, dyspneu dan apneu merupakan tanda terjadinya syok.
4. Jalan nafas yang penuh dengan secret peru dihilangkan untuk jalan nafas spontan paska ekstubasi.
5. Tingkat perkembangan paska anestesi dapat dilihat dari aktivitas, kesadaran, warna,


- Nyeri berhubungan dengan sekunder terhadap trauma pada jaringan dan saraf bekas operasi stripping
Tujuan : nyeri berkurang
Kriteria :
- Klien tenang dan tidak menyeringai
- Klien mengerti factor penyebabnya seperti yang telah dijelaskan pada preoperasi

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji jtingkat nyeri

2. Atur posisi yang baik dan mengenakkan



3. Anjurkan klien nafas panjang dan dalam


4. Observasi luka paskaoperasi


5. Terapi analgetik 1. NYeri dapat diantisipasi klien secara individualisme dan penanganan yan berbeda
2. Posisi kaki lebih tinggi dari badan 30o dapat mengurangi peningkatan penekanan pada jaringan yang rusak sehingga mengurangi nyeri.
3. Nafas panjang dan dalam merelaksasi otot yang dioperasi dan terimobilisasi sehingga nyeri berkurang
4. Perhatikan stuwing yang meningkat menghambat suplai oksigen sehingga nyeri bertambah.
5. Analgetik merupakan obat anti nyeri yang bekerja secara sentral atau perifer/local.


III. Implementasi
Tindakan yang diberikan pada klien preoperasi, intraoperasi dan paska operasi berbeda-beda sesuai tingkat pengalaman pembedahan masa lalu, umur, jenis operasi serta koping mekanismenya, sehingga dalam penanganannya dari segi perawatan perlu dimodifikasi sesuai dengan masalah dan sumber pendukung dan pemecahan masalah.

IV. Evaluasi
Evaluasi ini dalam jangka waktu pendek yang dalam penanganannya dapat berupa masalah :
a. dapat diatasi
b. Dapat diatasi sebagian
c. Tidak dapat diatasi/tidak berhasil

DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto. LJ, 2001,. Keperawatan Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman unutuk Perencanaan dan Pendokumentasian Keperawatan EGC. Jakarta

Doengoes, Marlyn E Et.al. 2000. Diagnostik. EGC. Jakarta

Donna, 1995. Medical Surgical Nursing. WB Saunders

Engram B. 1999. RencanaASUhan KEperawatan Medikal BEdah, EGC. Jakarta.

Long.C,B, 1996. Perawatan Medikal Bedah; Suatu pendekatan Proses Keperawatan vol. 3. IAPK. BAndung

Mansjoer A. 1999. Kapita Slekta Jilid 2. FKUI. Jakarta

Purohito.------.Beberapa ASpek dari Varises Tungkai dan cara-cara Pengobatannya. FKUA. Surabaya – Indonesia

Sabiston, 1994. Buku Ajar Bedah Bagian 2. EGC. Jakarta

Asuhan Keperawatan VENTRIKEL SEPTUM DEFEK

VENTRIKEL SEPTUM DEFEK

A. DEFINISI
Defek Septum Ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler semasa janin dalam kandungan. Sehingga darah bisa mengalir dari ventrikel kiri ke kanan ataupun sebaliknya.

Ventrikel Septum Defek
Asuhan Keperawatan

B. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan kelainan Hemodinamik
Defek kecil dengan tahanan paru normal
Defek sedang dengan tahahan vaskuler paru normal
Defek besar dengan hipertensi pulmonal hiperkinetik
Defek besar dengan penyakit obstruksivaskuler paru

2. Klasifikasi  Defek Septum Ventrikel berdasarkan letak anatomis
Defek didaerah pars membranasea septum, yang disebut defek membran atau lebih baik perimembran (karena hampir selalu mengenai jaringan di sekitarnya). Berdasarkan perluasan (ekstensi) defeknya, defek peri membran ini dibagi lagi menjadi yang dengan perluasan ke outlet, dengan perluasan ke inlet, dan defek peri membran dengan perluasan ke daerah trabekuler.
Defek muskuler, yang dapat dibagi lagi menjadi : defek muskuler inlet, defek muskuler outlet dan defek muskuler trabekuler.
Defek subarterial, terletak tepat dibawah kedua katup aorta dan arteri pulmonalis, karena itu disebut pula doubly committed subarterial VSD. Defek ini dahulu disebut defek suprakristal, karena letaknya diatas supraventrikularis. Yang terpenting pada defek ini adalah bahwa katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada ketinggian yang sama, dengan defek septum ventrikel tepat berada di bawah katup tersebut. (dalam keadaan normal katup pulmonal lebih tinggi daripada katup aorta, sehingga pada defek perimembran lubang terletak tepat di bawah katup aorta namun jauh dari katup pulmonal)

C. ETIOLOGI
Lebih dari 90% kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah multifaktor. Faktor yang berpengaruh adalah :
1. Faktor eksogen : ibu mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang dan jamu. Penyakit ibu (penderita rubella, ibu menderita IDDM) dan Ibu hamil dengan alkoholik.
2. Faktor endogen :  penyakit genetik (Sindrom Down), anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, ayah dan ibu menderita PJB dan lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

D. GAMBARAN KLINIS
1. VDS Kecil
a. Biasanya asimtomatik
b. Defek kecil 5 – 10 mm
c. Tidak ada gangguan tumbang
d. Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising pansistolik yang menjalar keseluruh tubuh prekardium dan berakhir pada waktu diastolik karena terjadi penurunan VSD
2. VSD Sedang
a. Sesak nafas pada saat aktivitas
b. Defek 5 – 10 mm
c. BB sukar naik sehingga tumbang terganggu
d. Takipnoe
e. Retraksi
f. Bentuk dada normal
g. Bising pansistolik

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Auskultasi jantung  mur-mur pansistolik keras dan kasar , umumnya paling jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum
Pantau tekanan darah
Foto rontgen toraks  hipertrofi ventrikel kiri
Elektrocardiografi
Echocardiogram  hipertrofi ventrikel kiri
MRI

E. KOMPLIKASI
Gagal jantung
Endokarditis
Insufisiensi aorta
Stenosis pulmonal
Hipertensi pulmonal (penyakit pembuluh darah paru yang progresif)

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pembedahan :
menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass
pembedahan Pulmonal Arteri Bunding (PAB) atau penutupan defek untuk mengurangi aliran ke paru.
Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
Pemberian vasopresor atau vasodilator :
1. Dopamin ( intropin )
Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan  sistolik serta tekanan nadi , sedikit sekali atau tidak ada efeknya pada tekanan diastolik ;digunakan untuk gangguan hemodinamika yang disebabkan bedah jantung terbuka (dosis diatur untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi ginjal)
2. Isopreterenol ( isuprel )
Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung : menurunan tekanan diastolik dan tekanan rata-rata sambil meningkatkan tekanan sisitolik.


ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam diagnosa keperawatan, perlu dilakukan pengkajian data dari hasil :
Anamnesa
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Dari hasil pengkajian tersebut, data yang diperoleh adalah masalah yang dialami klien
Penyebab timbulnya keluhan
Informasi tentang kelainan struktur dan fungsi jantung atau pembuluh darah
Informasi tentang kekuatan jantung dan aktivitas klien yang tidak memperberat kerja jantung

Anamnesa
Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam melakukan anamnesa adalah :
1. Riwayat perkawinan
Pengkajian apakah anak ini diinginkan atau tidak, karena apabila anak tersebut tidak diinginkan kemungkinan selama hamil ibu telah menggunakan obat-obat yang bertujuan untuk menggugurkan kandungannya
2. Riwayat kehamilan
Apakah selama hamil ibu pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, seperti hipertensi, diabetus melitus atau penyakit virus seperti rubella khususnya bila terserang pada kehamilan trisemester pertama.
3. Riwayat keperawatan
Respon fisiologis terhadap defek ( sianosisi, aktivitas terbatas )
4. Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung: nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan ( mur-mur ), edema tungkai dan hepatomegali )
5. Kaji adanya tanda-tanda hipoxia kronis : clubbing finger
6. Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan
7. Apakah diantara keluarga ada yang menderita penyakit yang sama
8. Apakah ibu atau ayah perokok (terutama selama hamil)
9. Apakah ibu atau ayah pernah menderita penyakit kelamin (seperti sipilis)
10. Sebelum hamil apakah ibu mengikuti KB dan bentuk KB yang pernah digunakan
11. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan ibu selama hamil
12. Untuk anak sendiri apakah pernah menderita penyakit demam reumatik
13. Apakah ada kesulitan dalam pemberian makan atau minum khususnya pada bayi
14. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan anak

Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.
Tujuan : meningkatkan curah jantung
Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung
Intervensi :
Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.
Tegakkan derajad sinosis ( sirkumoral, membran mukosa, clubbing)
Monitor tanda-tanda CHF ( gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )
Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.
Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload
Berikan diuretik sesuai indikasi


2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.
Tujuan : meningkatkan resisitensi pembuluh paru
Kriteria Hasil : anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru
Intervensi :
Monitor kualitas dan irama pernafasan
Atur posisi anak dengan posisi fowler
Hindari anak dari orang yang terinfeksi
Berikan istirahat yang cukup
Berikan nutrisi yang optimal
Berikan oksigen jika ada indikasi

3. Tidak toleransi terhadap aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel.
Tujuan : mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh seusianya
Intervensi :
Ijinkan anak untuk sering beristirahat dan hindari gangguan pada saat tidur
Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan
Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan kemampuan anak
Berikan periode istirahat setelah melakuakan aktivitas
Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin
Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan kecemasan pada anak.

4. Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Tujuan : mempertahankan pertumbuhan berat badan yang sesuai
Kriteria Hasil : anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan
Intervensi :
Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
Monitor tinggi dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori
Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
Kriteria Hasil : anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
Intervensi :
Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama
Catat intake dan output secara benar
Berikan makanan dengan porsi kesil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan
Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu
Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi
Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat
Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak dibatasi.

6. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan.
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi
Kriteria Hasil : anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi
Intervensi :
Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
Berikan istirahat yang adekuat
Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal

7. Perubahan peran orangtua berhubungan dengan hospitalisasi anak, kekhawatiran terhadap peyakit anak.
Tujuan : memberikan dukungan pada orang tua
Kriteria Hasil : orang tua akan mengekspresikan perasaannya karena memiliki anak denan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan
Intervensi :
Ajarkan orang tua untuk mengeskpresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilana pengbatan
Eksplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa bersalah, berduka dan perasaan tidak mampu
Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas
Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga yang lain dalam perawatan anak.

Perencanaan pemulangan
1. Kontrol sesuai waktu yang ditentukan
2. Jelaskan aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuia dengan usia dan kondisi penyakit
3. Mengajarkan keterampilan yang diperlukan di rumah, yaitu :
Tehnik pemberian obat
Tehnik pemberian makanan
Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal ynag mencemaskan
Tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan

SUMBER PUSTAKA

Suriadi, Rita yuliani, (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak, jakarta : CV. Sagung Seto .
Heni Rokhaeni, Elly Purnamasari, (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, jakarta : Pusat Kesehatan jantung dan Pembuluh Darah Nasional “ Harapan Kita “.
Corwin, Elizabeth J, (200). Buku Saku Patofisiologi, alih bahasa Brahm U Pendit jakarta : EGC
Markum A.H, (1991), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.
Doenges, Marilynn E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Edisi 3. Jakarta : EGC.
R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC.
Nettina, Sandra M, (2001). Pedoman Praktik Keperawatan, alih bahasa Setiawan,Sari Kurnianingsih, Monica Ester, jakarta : EGC.
Carpenito Linda Juall, (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6, jakarta.
M. Tucker, martin, (1998). Standart Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi.Edisi V. Volume 3. Jakarta. EGC.

Selasa, 15 Agustus 2017

Cara Lain Agar Tidak Cuci Darah

Cuci darah merupakan pilihan yang harus dilakukan oleh penderita gagal ginjal. Hal ini berfungsi untuk menggantikan ginjal dalam membuang racun dalam darah.

Cara agar tidak HD rutin
Cara agar tidak HD

Racun dalam darah yang dikeluarkan oleh ginjal antara lain ureum dan creatinin (UC). Semakin tinggi kadar UC maka semakin besar kemungkinan dokter menyarankan untuk HD.

Normalnya kadar creatinin dalam darah tidak boleh lebih dari 1,3 mg/dl. Jika creatinin semakin meninhkat maka harus segera dilakukan cuci darah agar tidak meracuni tubuh dan berujung kematian.

Namun banyak orang yang tidak menghendaki cuci darah dengan alasan takut kalau sampai ketergantungan. Sebenarnya cuci darah tidak membuat orang ketergantungan, hanya saja karena ginjal memang sudah tidak berfungsi maka mau tidak mau wajib rutin cuci darah.

Bagi anda yang memang tidak mau melakukan cuci darah sebaiknya anda membaca beberapa tips ini.

1. Kurangi intake cairan, pada penderita gagal ginjal yang sudah indikasi HD dianjurkan untuk membatasi masukan cairan kedalam tubuh. Karena fungsi ginjal yang sudah menurun maka output dari tubuh berupa urin juga menurun. Sehingga cairan semakin lama akan semakin mmenumpuk.

2. Kurangi protein, protein pada urin penderita gagal ginjal meningkat akibat gagalnya memfiltrasi darah. Sehingga protein dalam darah ikut keluar bersama urin (pipis). Semakin banyak anda mengkonsumsi makanan yang mengandung protein maka semakin berat kerja ginjal anda.

3. Kontrol rutin, salah satu cara agar menghindari cuci darah adalah dengan cara melakukan kontrol rutin pada dokter konsultan ginjal dan hipertensi. Hal ini bertujuan agar anda dapat terpantau dengan baik.

4. Minum obat teratur, pada penderita gagal ginjal harus meminum obat yang telah diberikan oleh dokter secara teratur. Karena banyaknya obat yang diminum terkadang penderita bosan dan tidak lagi meminum obat. Hal ini justru akan memperparah sakit anda.

5. Cek darah rutin, pemeriksaan darah secara rutin sangat diperlukan bagi penderita gagal ginjal untuk mengontrol kadar ureum creatinin dalam darah. Lakukan pemeriksaan secara rutin untuk memonitor creatini dalam darah.

Itu tadi 5 hal yang bisa anda lakukan untuk tidak melakukan cuci darah. Namun hal yang terbaik agar masa hidup anda lebih panjang sebaiknya lakukan cuci darah sedini mungkin sebelum terlambat.

Selasa, 08 Agustus 2017

Ranitidin Adalah Obat Untuk Mengurangi Asam Lambung Dan Aman Bagi Ibu Hamil

Ranitidine merupakan obat yang biasa diberikan kepada orang yang memiliki keluhan pada saluran pencernaan. Obat ini termasuk antihistamin lebih tepatnya  H2 blocker yang berkerja langsung pada tubuh penderita.

Fungsi utama ranitidine adalah mengurangi asam lambung pada saluran pencernaan. Pada pasien yang memiliki keluhan pada lambung sangat dianjurkan menggunakan obat ini.

yang aman bagi ibu hamil
Ranidine Obat untuk Mengurangi asam Lambung

Ada banyak merek yang beredar dipasaran seperti di apotek-apotek disekitar anda. Janganlah anda bingung  jika anda mendapati nama yang berbeda sebagai contoh rantin.

Sebenarnya kandungan didalamnya sama saja yaitu ranitidine hcl, hanya saja merek daganglah yang dibuat berbeda. Karena ranitidine sendiri merupakan nama generiknya sementara rantin merupakan nama merek dari kalbe farma.

Biasanya obat ini diberikan untuk penderita yang mendapatkan obat dimana memicu asam lambung meningkat. Obat ini difungsikan agar produk asam lambung menjadi normal kembali.

Ada 3 jenis sediaan ranitidine yang bisa kita dapatkan yaitu Dalam bentuk Sirup, Tablet, atau Injeksi. Pilihlah sesuai dengan yang anda inginkan ingat dalam sehari dosis maksimal yang dapat dikonsumsi tidek boleh lebih dari 300 mg.

Obat ini lebih efektif jika dikonsumsi satu jam sebelum makan atau segera setelah makan. Selama mengkonsumsi obat ini hindari makanan atau minuman yang memicu asam lambung seperti kopi.
Konsultasikan kepada dokter jika anda ingin memberikan obat ini kepada anak-anak. Ada banyak yang bertanya ranitidin amankah untuki ibu hamil?.

Obat ini boleh diberikan pada ibu hamil dan menyusui dengan catatan harus dengan resep dokter. Jangan menentukan dosis sendiri pada kasus diatas untuk mengurangi gejala pada penderita yang hamil.

Ketika anda mengkonsumsi obat ini didapati mual muntah,pusing, atau gatal-gatal. Sebaiknya hentikan penggunaan obat ini dan konsultasikan ke dokter.

Minggu, 30 Juli 2017

Apa Itu MRSA?, Waspadai Gejala Dan Bagaimana Cara Pengobatannya

Methicillin Resistan Staphylococcus Aureus atau biasa disebut MRSA merupakan jenis penyakit dimana kuman staphylococcus tahan terhadapp antibiotic jenis methicillin. Ada dua jenis penyakit MRSA berasal dari mana didapat penyakit ini yaitu dari Rumah Sakit HA-MRSA dan dari komunitas CA-MRSA.

Kuman S.Aureus membangun kekebalan terhadap methicillin stelah diberi antibiotic beberapa tahun yang lalu untuk mengatasi infeksi.  Banyak kasus terjadi penyebaran MRSA karena adanya kontak langsung dengan penderita disaat kondisi imun kita lemah.
www.tanyaobat.com
Waspadai penularan MRSA
Cara penyebaran penyakit ini bisa terjadi ketika ada kontak langsung maupun tidak langsung dengan penderita. Penularan kontak langsung bisa terjadi baik sentuhan kulit dengan kulit atau jabat tangan sedangkan kontak tak langsung bisa terjadi dari pemakaian handuk atau pakaian yang dipakai bersama-sama.

Kuman ini dapat masuk kedalam tubuh melewati luka terbuka seperti bisul, jerawat dan luka lainnya. S.Aureus yang masuk ketubuh dapat menyebabkan sakit yang menular pada paru, sendi, darah, maupun katup jantung.

Banyak gejala yang di timbulkan oleh infeksi S.Aureus yang bisa kita ketahui secara dini agar kita bisa mencegahnya. Contoh gejala yang biasa timbul adalah nyeri dada, batuk atau sesak nafas, kelelahan, pusing, ruam, demam disertai menggigil dan luka yang tak kunjung sembuh.

Ada beberapa kemungkinan kita dapat tertular penyakit ini ketika kita berada dilingkungan rumah sakit baik pasien, pengunjung  maupun yang bekerja dirumah sakit. Tinggal tempat yang padat dan penuh sesak dengan penderita MRSA juga memiliki resiko yang tinggi untuk tertular.

Salah satu pencegahan yang paling sederhana adalah dengan cuci tangan baik sebelum maupun sesudah kontak dengan penderita. Perlu anda ketahui bahwa cuci tengan merupakan cara paling ampuh untuk memutus mata rantai penyebaran kuman.

Bagi anda yang bekerja di rumah sakit dan sering kontak dengan penderita MRSA alangkah baiknya anda menggunakan APD (alat pelindung diri). Setelah pulang kerja sebaiknya anda tidak melakukan kontak langsung dengan keluarga dirumah.

Solusi terbaik adalah dengan mandi keramas dari ujung rambut sampai ujung kaki setelah anda pulang kerja. Pakaian yang anda pakai ketika bekerja sabiknya direndam pada air panas atau cairan desinfektan.
Berikut tadi bagaimana cara kita dalam menangani penyakit MRSA yang perlu kita ketahui. Semoga anda lebih berhati-hati dengan penderita MRSA.