Eksfoliasi menjadi salah satu langkah populer dalam perawatan kulit. Setelah menggunakan produk eksfoliasi seperti scrub, AHA, atau BHA, kulit dapat terasa lebih halus dan tampak lebih cerah. Hal ini membuat sebagian orang berpikir bahwa semakin sering melakukan eksfoliasi, semakin baik hasilnya.
Padahal, belum tentu. Kulit sebenarnya memiliki kemampuan alami untuk melepaskan sel-sel kulit mati melalui proses deskuamasi. Eksfoliasi dapat membantu mempercepat proses tersebut, tetapi jika dilakukan terlalu sering atau terlalu agresif, justru dapat mengganggu skin barrier. [1]
Apa Sebenarnya Fungsi Eksfoliasi pada Kulit?
Lapisan terluar kulit disebut stratum corneum. Lapisan ini terdiri dari sel-sel kulit yang telah mengalami proses keratinisasi dan berperan penting dalam melindungi kulit.
Eksfoliasi membantu mengurangi penumpukan sel kulit pada permukaan sehingga kulit terasa lebih halus dan tampak lebih cerah. Bahan seperti AHA, BHA, dan PHA juga banyak digunakan untuk membantu mengatasi tekstur kulit, pigmentasi, jerawat, dan tanda-tanda photoaging. [1]
Namun, tujuan eksfoliasi bukan untuk menghilangkan sebanyak mungkin sel kulit mati. Eksfoliasi seharusnya membantu proses alami kulit tanpa mengganggu lapisan pelindungnya.
Mengapa Terlalu Sering Eksfoliasi Justru Dapat Mengganggu Skin Barrier?
Skin barrier dapat diibaratkan seperti dinding pelindung kulit. Sel-sel kulit diumpamakan seperti batu bata, sedangkan lipid seperti ceramide, kolesterol, dan asam lemak membantu mengisi ruang di antaranya. Struktur ini membantu mempertahankan air di dalam kulit sekaligus melindungi kulit dari faktor eksternal. [2]
Eksfoliasi memang membantu melepaskan sel kulit dari permukaan. Namun, jika dilakukan terlalu sering atau terlalu agresif, proses tersebut dapat mengganggu struktur normal lapisan terluar kulit. Pada chemical exfoliant seperti AHA, bahan aktif dapat memengaruhi gaya tarik antar korneosit sehingga membantu proses pelepasan sel yang mengurangi ikatan antar sel kulit. Efek ini bermanfaat jika digunakan dengan tepat, tetapi konsentrasi, pH, dan lama paparan juga memengaruhi potensi iritasi. [3]
Ketika barrier terganggu, kulit dapat kehilangan air lebih banyak. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi skin barrier adalah transepidermal water loss (TEWL). Peningkatan TEWL dapat menunjukkan adanya perubahan pada fungsi barrier kulit. [4]
Perbedaan Physical Exfoliant dan Chemical Exfoliant
Secara umum, eksfoliasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
- Physical exfoliant bekerja melalui gesekan, misalnya facial scrub, cleansing brush, atau alat pembersih tertentu. Jika dilakukan dengan tekanan terlalu kuat atau terlalu sering, gesekan dapat menyebabkan iritasi.
- Chemical exfoliant menggunakan bahan aktif untuk membantu proses pelepasan sel kulit. Jenis yang paling umum adalah AHA, BHA, dan PHA. [1]
Mengenal Agen Eksfoliasi yang Umum Digunakan: AHA, BHA, PHA, dan Lainnya
AHA (Alpha Hydroxy Acid), seperti glycolic acid dan lactic acid, banyak digunakan untuk membantu memperbaiki tekstur dan tampilan kulit. Efek AHA dipengaruhi oleh konsentrasi dan formulasi produk sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit. [3]
BHA (Beta Hydroxy Acid) yang paling umum digunakan dalam produk perawatan kulit adalah salicylic acid. Bahan ini memiliki sifat keratolitik dan komedolitik sehingga banyak digunakan pada kulit berminyak, komedo, dan jerawat. [5]
Sementara itu, PHA (Polyhydroxy Acid) seperti gluconolactone dan lactobionic acid juga memiliki efek eksfoliasi. PHA dilaporkan memiliki sifat humektan dan dapat menjadi salah satu pilihan untuk kulit yang lebih sensitif, karena penetrasinya cenderung lebih lambat dibandingkan beberapa AHA. [6]
Bagaimana Memilih Jenis Eksfoliasi Berdasarkan Kondisi Kulit?
Pemilihan eksfolian sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan toleransi kulit. Berikut adalah gambaran dari saran penggunaan yang bersifat umum:
- Kulit kusam atau tekstur tidak rata: dapat mempertimbangkan AHA.
- Kulit berminyak dan mudah berkomedo: BHA dapat menjadi pilihan.
- Kulit sensitif: PHA dapat dipertimbangkan.
- Kulit sedang mengalami iritasi: sebaiknya hentikan eksfoliasi sementara dan fokus menjaga skin barrier.
Namun, pembagian tersebut bukan aturan mutlak. Konsentrasi, formulasi, frekuensi penggunaan, serta kombinasi dengan produk skincare lainnya juga dapat memengaruhi respons kulit. [1,3]
Tanda-Tanda Kulit Mengalami Iritasi Akibat Eksfoliasi Berlebihan
Beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa kulit tidak dapat mentoleransi rutinitas eksfoliasi dengan baik antara lain:
- Kulit menjadi sangat kering,
- Terasa tertarik,
- Perih atau seperti terbakar,
- Kemerahan,
- Mengelupas,
- Atau menjadi lebih sensitif terhadap produk yang sebelumnya dapat digunakan dengan nyaman.
Jika kondisi tersebut muncul, jangan menambah frekuensi eksfoliasi. Kurangi atau hentikan sementara penggunaan eksfolian dan berikan kesempatan bagi kulit untuk kembali stabil.
Tips Menggunakan Produk Eksfoliasi dengan Lebih Aman
1. Jangan langsung menggunakan eksfolian terlalu sering.
Berikan kesempatan bagi kulit untuk menunjukkan apakah produk tersebut dapat ditoleransi. Dan frekuensi penggunaan tidak dapat disamaratakan karena bergantung pada jenis bahan aktif, konsentrasi, formulasi, kondisi kulit, dan produk lain yang digunakan.
2. Hindari menggabungkan terlalu banyak eksfolian.
Menggunakan AHA, BHA, peeling solution, dan scrub sekaligus bukan berarti hasilnya akan lebih cepat.
3. Perhatikan bahan aktif lainnya.
Keseluruhan rutinitas skincare perlu diperhatikan karena beberapa bahan aktif juga dapat meningkatkan risiko iritasi.
4. Jangan mengejar sensasi perih.
Rasa terbakar bukan indikator bahwa produk bekerja lebih efektif.
5. Gunakan moisturizer.
Menjaga hidrasi merupakan bagian penting dalam mempertahankan fungsi skin barrier. [2]
6. Gunakan sunscreen pada siang hari, di dalam maupun luar ruangan.
Perlindungan terhadap sinar ultraviolet merupakan bagian penting dari perawatan kulit, terutama ketika menggunakan produk eksfoliasi. [1]
Jadi, Apakah Semakin Sering Eksfoliasi Semakin Bagus?
Tidak selalu. Eksfoliasi dapat membantu membuat kulit terasa lebih halus dan tampak lebih cerah, tetapi kulit juga memiliki mekanisme alami untuk melepaskan sel kulit mati. Penggunaan eksfolian yang terlalu sering atau agresif justru dapat mengganggu skin barrier dan membuat kulit lebih kering serta sensitif. [1,3,4]
Karena itu, prinsip yang lebih tepat bukan "semakin sering semakin bagus", melainkan: "Eksfoliasi secukupnya sesuai kebutuhan dan toleransi kulit."
Kulit yang sehat bukan kulit yang terus-menerus mengelupas, tetapi kulit dengan skin barrier yang tetap terjaga, cukup terhidrasi, dan tidak mengalami iritasi berulang.
Artikel ini di review oleh :
apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm
Daftar Pustaka
1. Kornhauser A, Coelho SG, Hearing VJ. Applications of hydroxy acids: classification, mechanisms, and photoactivity. Clin Cosmet Investig
Dermatol. 2010. Vol 3:135-142. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21437068/
2. Menon GK, Cleary GW, Lane ME. The structure and function of the stratum corneum. Int J Pharm. 2012.Vol 435(1):3-9. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22705878/
3. Tang SC, Yang JH. Dual effects of alpha-hydroxy acids on the skin. Molecules. 2018. Vol 23(4):863. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29642579/
4. Green M, Feschuk AM, Kashetsky N, Maibach HI. "Normal" TEWL—how can it be defined? A systematic review. Exp Dermatol. 2022. Vol 31(10):1618-1631. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35753062/
5. Arif T. Salicylic acid as a peeling agent: a comprehensive review. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2015. Vol 8:455-461. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26347269/
6. Grimes PE, Green BA, Wildnauer RH, Edison BL. The use of polyhydroxy acids (PHAs) in photoaged skin. Cutis. 2004;73(2 Suppl):3-13. Dapat diakses secara online di https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15002656/