Suatu hari Tn. Y yang berusia 65 tahun datang berobat ke Poliklinik Penyakit Dalam dengan tujuan untuk melakukan kontrol rutin penyakit hipertensi yang dideritanya. Setelah selesai pemeriksaan seperti biasanya beliau langsung menuju ke instalasi farmasi rawat jalan untuk mengambil obat dari resep yang diberikan dokter. Saat menerima informasi obat dari Apoteker terkait penggunaan obat hipertensi yaitu amlodipin yang disarankan diminum malam hari sebelum tidur, bapak Y bertanya-tanya mengapa obat tersebut diminum pada saat malam hari? Mengapa tidak pagi hari saja agar tidak lupa? Melihat kondisi seperti ini maka Apoteker pun memberikan penjelasan untuk obat hipertensi apakah harus diminum malam hari atau boleh pagi hari?
Berdasarkan gambaran di atas, tentu permasalahan tersebut sering sekali ditemukan dalam pelayanan kefarmasian khususnya untuk obat hipertensi. Perlu diketahui sebetulnya dokter sebagai penulis resep juga beberapa ada yang memberikan informasi tambahan untuk setiap obat hipertensi mengenai waktu minumnya dengan menambahkan keterangan pagi, siang, sore atau malam. Nah, dari informasi tersebut apoteker tentunya akan menyiapkan dan menyampaikan informasi obat sesuai arahan dari dokter. Namun, apabila pasien bertanya maka Apoteker harus mampu memberikan penjelasan terkait waktu pemberiannya.
Hipertensi adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya gangguan pada tekanan darah sistolik maupun diastolik yang meningkat atau naik diatas tekanan darah normal1. Tekanan sistolik adalah tekanan tertinggi ketika jantung memompa darah, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung beristirahat dan terisi darah kembali2. Seseorang dinyatakan menderita hipertensi jika tekanan darahnya melebihi 140/90 mmHg dalam kondisi istirahat berdasarkan dua kali pengukuran dengan jeda tiga sampai lima menit. Tekanan darah sistolik normal berkisar 100–140 mmHg, sementara diastolik berada pada 60–90 mmHg3.
Salah satu obat hipertensi yang biasa diminum pada malam hari adalah amlodipin. Namun, ternyata amlodipin tidak selalu harus diminum pada malam hari, tetapi dapat juga diminum pagi hari untuk kasus-kasus tertentu sesuai kondisi pasiennya. Amlodipin berfungsi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi yang cara kerjanya melemaskan otot pembuluh darah. Amlodipin lebih efektif bila diminum pada malam hari karena berkaitan dengan ritme sirkadian tekanan darah, dimana tekanan darah cenderung meningkat pada dini hari hingga pagi (morning blood pressure surge).
Pemberian malam hari memungkinkan kadar obat berada pada efek optimal saat peningkatan tekanan darah terjadi, sehingga kontrol tekanan darah sistolik menjadi lebih baik. Pemberian amlodipin di malam hari dapat secara efektif menurunkan tekanan darah malam hari, terutama untuk pasien non-dipper (pasien yang tekanan darahnya tidak mengalami penurunan normal saat tidur) yang lebih baik4. Akan tetapi, pemberian amlodipin pada pagi hari juga dapat membantu mengurangi lonjakan tekanan darah yang umumnya terjadi pada pagi hari5.
Kesimpulannya, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengonsumsi obat hipertensi pada malam hari lebih baik dibandingkan pagi hari, maupun sebaliknya. Waktu konsumsi yang paling tepat dapat berbeda pada setiap individu, tergantung pada berbagai faktor seperti jenis dan mekanisme kerja obat, pola tekanan darah, kondisi kesehatan, serta ritme sirkadian masing-masing orang.
Oleh karena itu, pasien dapat mengonsumsi obat hipertensi pada waktu yang paling sesuai dan mudah dijalani secara konsisten, baik pada pagi maupun malam hari. Lalu, yang terpenting adalah memastikan obat dikonsumsi secara teratur, tepat waktu, dan sesuai dosis yang dianjurkan oleh dokter, sehingga tekanan darah tetap terkontrol dan risiko komplikasi dapat diminimalkann6.
Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm
Sumber Pustaka :
- Lukitaningtyas, D., & Cahyono, E. A. (2023). Hipertensi; Artikel Review. Jurnal Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan, 2(April), 31–41. http://ejournal.lppmdianhusada.ac.id/index.php/PIPK/article/view/272/249 https://doi.org/10.56586/pipk.v2i2.272
- Shofiana, S. (2024). Penerapan Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Desa Joyotakan. Ijoh: Indonesian Journal Of Public Health, 2. https://doi.org/10.59581/diagnosa-widyakarya.v2i2.3831
- Sekhri, N., Dhôte, R., Le Jeune, S., & Morabito, A. (2026). Management of hypertension in primary care: A cross-sectional study of general practitioner practices in Seine-Saint-Denis, France. Vascular Diseases. https://doi.org/10.1016/j.vasdi.2026.02.008
- Luo, Y., Ren, L., Jiang, M., & Chu, Y. (2019). Anti hypertensive efficacy of amlodipine dosing during morning versus evening: A meta analysis. Reviews in medicine, 20(2), 91-98. https://doi.org/10.31083/j.rcm.2019.02.31814
- Wang, J. G., Palmer, B. F., Vogel Anderson, K., & Sever, P. (2023). Amlodipine in the current management of hypertension. The Journal of Clinical Hypertension, 25(9), 801-807. https://doi.org/10.1111/jch.14709
- Mackenzie IS, Rogers A, Poulter NR, et al. Cardiovascular outcomes in adults with hypertension with evening versus morning dosing of usual antihypertensives in the UK (TIME study): a prospective, randomised, open-label, blinded-endpoint clinical trial. The Lancet 2022;400(10361):1417–1425. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01786-X